kehidupan tidak luput dari kata cinta. Entah cinta kepada orang tua, kaka, adik, anggota keluarga lain ataupun sang kekasih.
Setiap insan muda biasanya lebih berat kehilangan cinta sang kekasih dari pada cinta Orangtuanya sendiri. Sadar tidak sadar pasti itu terjadi. Keadaan seperti ini sudah sering terjadi bahkan saya pun mengalaminya, begitu sedih kalo saya teringat hal tersebut. Ketika itu saya masih dalam usia yg sangat rentan dan sensitif, sekarangpun masih agak sedikit sensitif tp Alhamdulillah saat ini saya masih bisa mengendalikan diri saya.
Cinta Umi dan Ayah saya takan bisa tergantikan dengan cinta lainnya. Keadaan saya seperti apapun tak sedikitpun rasa cinta Mereka hilang dari diri saya. Tahukah pembaca berapa besar cinta orang tua pembaca kepada pembaca?. Ingatkah kesalahan terbesar pembaca kepada orang tua pembaca?. Sebesar apapun kesalahan kita itu pasti dimaafkan oleh orang tua kita, betapa mirisnya mengingat yg pernah saya lakukan dulu.
Ketika itu saya tengah dilanda asmara, sebulan 2 bulan 3 bulan kisah cinta kita berjalan lancar meski kita LDR, dia berada jauh dr Indonesia. Ketika itu saya katakan kepada Umi saya kalau saya tengah dekat dengan seorang laki-laki, dan saya pun berniat untuk menjalani hubungan serius dengannya, saya ceritakan semua dengan Umi saya, saya perlihatkan fotonya. Dua bulan sebelum dia pulang ke Indonesia dia mengatakan akan datang ke rumah. saya pun katakan itu kepada Umi saya. Alhasil Umi saya mengatakan semua kepada Ayah saya, karena saya tidak punya keberanian untuk berbicara dengan ayah saya.
Selang beberapa hari Ayahpun menghampiri saya dan berkata, "lepaskan dia, Kamu masih kuliah dan dia pun kuliah belum selesai, Selesaikan dahulu. Laki-laki itu tidak baik untukmu". Sayapun menghubunginya berbicara kepadanya untuk menunggu saya sampai selesai kuliah saya, dan dia pun menyetujuinya. DISINI LETAK KESALAHAN SAYA, BUKAN MELEPASKANNYA TAPI MALAH MEMPERTAHANKANNYA. Saya tidak mengikuti apa yang dikatakan Ayah saya.
Selang beberapa minggu dia kembali mengajak saya untuk serius, padahal dia telah menyetujui untuk menikahi saya setahun lagi tepatnya November 2015, karena kuliah saya selesai September 2015 dan saat itu Desember 2014. Dia pun kembali setuju dan berjanji untuk menunggu saya.
Tahun baru pun datang sudah beberapa hari dia tidak ada kabar, kontak BBM pun hilang begitu saja. Saya terus menunggunya dan tidak menghubunginya karena dia sedang ujian dan tidak bisa diganggu. 11 hari pun berlalu masih belum ada kabar padahal ujian telah usai. Tiba2 ponsel saya berdering dan ternyata pesan dari dia, dengan antusias saya membukanya dan membacanya, tanpa saya sadari air menetes dr mata saya, hati saya serasa remuk, hancur, dia berkata "ay, ada perempuan ngajak Aku nikah". Tanpa pikir panjang saya membalas pesan tersebut, "Kamu sudah istikhoroh belum? kalau belum istikhoroh minta sama Allah mana yg terbaik aku atau wanita itu", dia pun membalas , "iya ay". Setelah itu dia tidak pernah mengabari saya.
Saya tengah berada di ruang tamu kontrakan kami tepatnya di pinggir desa, saat itu saya dan teman-teman sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya dan 1 teman saya sedang duduk santai dan mendengarkan musik, dering ponsel berbunyi saya melihat di layar ponsel tanggal menunjukkan 1 Februari 2015, saya pun langsung membuka pesan masuk di hp saya dan membalasnya, Saya mengira pesan itu dari dia ternyata bukan.
Haripun terus berganti, sudah 3 minggu kami berada di desa. Tiba-tiba teman saya memanggil saya, "din, din, dinda", saya pun berlari menuju asal suara tersebut, "kenapa dor?", "Lihat dan baca ini!!" pinta dora kepada saya. Saya pun langsung membacanya, DEG DEEGGG DEEEGGG, detak jantung saya semakin kencang, yang saya lihat bagaikan pisau panas memotong-motong hati saya. Teman saya mendapat pesan dari dia lebih tepatnya BC di BBM, teman saya di undang ke acara pernikahan dia dengan wanita lain, betapa hancur nya saya.
Sudah sebulan semenjak kejadian itu, saya masih belum menerima sepenuh hati, tp saya tetap diam. Ponsel saya berdering, saya pun membukanya dan berkata dalam hati 'owh, pesan di WA'. Saya lihat pengirimnya, ternyata dia mengirim pesan dan berkata dalam pesan itu, "dindaa", saya tidak membalasnya, dia mengirim pesan lagi, pesan ini yang membuat saya miris, yg dia katakan adalah "I love you", benar-benar sedih hati saya ketika itu, apa coba yg dia lakukan apa dia amnesia kalo sudah beristri, saya pun tidak membalasnya. Dia selalu memgirim pesan ke saya tapi tidak pernah saya balas.
Saya pun menyadari bahwa perkataan Ayah saya benar adanya, saya harus melepaskan dia karena dia tidak baik untuk saya, menurut saya lebih tepatnya saya tidak baik untuk dia. Terima kasih Umi Ayah karena telah mengingatkan saya dalam hal sekecil atau sebesar apapun untuk selalu berada di jalan yang baik. I Love You Umi Ayah..
Komentar
Posting Komentar